| Pertamina Ganti Elpiji dengan dimetil eter (DME) |
| Thursday, 21 January 2010 00:00 |
|
Jakarta - PT Pertamina (Persero) merencanakan untuk mengganti bahan bakar elpiji dengan dimetil eter (DME) mulai akhir 2011. Direktur Pemasaran dan Niaga Pertamina Achmad Faisal di Jakarta, Rabu (24/6) mengatakan, pihaknya menargetkan proses pergantian elpiji ke DME bisa selesai pada 2015. "DME merupakan produk masa depan. Selain lebih murah ketimbang elpiji, bahan bakunya yakni batubara muda dan gas alam juga melimpah di Indonesia," katanya. Menurut dia, pada tahun 2015, kebutuhan elpiji diprediksikan mencapai 10 juta ton yang sebanyak 3,5 juta ton berasal dari dalam negeri dan 6,5 juta ton impor. "Tapi, kalau sudah ada DME, maka bisa tidak impor lagi," ujarnya. Ia menambahkan, impor elpiji memberi dampak besar bagi keuangan Pertamina dan juga negara. Produk elpiji yang ada, lanjutnya, akan dipasok ke industri dengan harga yang lebih mahal ketimbang DME. Selanjutnya, pada tahun depan, Pertamina juga akan melakukan uji coba ke bus kota yang memakai bahan bakar solar. "Ke depan, kami juga harapkan tidak perlu impor solar lagi," ujarnya. Menurut dia, pasokan DME buat tahap awal ini atau sebelum kilang beroperasi, akan berasal dari pabrik yang berada di Tangerang, Banten. Sedang kompor DME, menurut Faisal, memang berbeda dengan elpiji. Sebab, DME mengandung oksigen, sehingga jika kompor elpiji memakai bahan bakar DME akan mati. "Akibatnya, harga kompor DME memang lebih mahal sedikit dibandingkan elpiji," katanya. Sebelumnya, Pertamina yang bekerja sama dengan PT Arrtu Mega Energie berencana membangun kilang DME dengan kapasitas 800.000 ton per tahun di Eretan, Jabar. Kilang yang direncanakan berproduksi akhir 2011 tersebut akan mengolah metanol menjadi DME. Pada tahap awal, bahan baku metanol akan berasal dari impor. Namun selanjutnya, metanolnya berasal dari kilang yang akan dibangun juga melalui kerja sama Pertamina dan Arrtu di Riau dan direncanakan beroperasi 2012 atau 2013. Kilang metanol di Riau dihasilkan melalui proses gasifikasi batubara muda. Dirut Arrtu Christoforus Richard mengatakan, investasi dua kilang di Eretan dan Riau tersebut mencapai US$1,9 miliar. DME memiliki karakteristiknya setara dengan elpiji yakni berbentuk gas pada suhu kamar, tidak beracun, dan dapat dicairkan, sehingga dapat menggunakan infrastruktur elpiji. Kegunaan lain, DME dapat dipakai sebagai bahan bakar kendaraan, pembangkit, dan industri yang lebih ramah lingkungan. Di Eropa, DME sudah dipakai sebagai bahan bakar kendaraan hybrid. DME dihasilkan melalui proses pirolisis dari unsur rantai karbon gas alam yakni C1 dan C2 yang biasa disebut lean gas, batubara, dan gas metana batubara (CBM) yang cadangannya melimpah di Indonesia. Sementara, produk elpiji berasal dari unsur karbon C3 dan C4 yang didapat melalui proses pengilangan dari minyak mentah atau gas alam. [*/cms] INILAH .COM-24/06/2009 |
Rambah Bisnis Gasifikasi Batubara - Orang Terkaya ke-6 RI Nilai Investasi capai US$ 2 Miliar 28 March 2011
25 Investor Amerika Serikat Siap Masuk Indonesia 22 January 2010
Divestasi Saham Tambang Sebaiknya business to business (B2B) 21 January 2010
50 Miliar Ton Batubara Siap dikomersialkan 19 January 2010
Garda Tujuh Buana Bidik Tambang Batubara di Kalimantan 18 January 2010