| Batubara Cair Belum Diminati Meskipun Sudah Dibanjiri Insentif |
| Thursday, 24 December 2009 00:00 |
|
16/04/2007 11:12 WIB-Alih Istik Wahyuni detik Finance Proyek batubara cair hingga kini belum juga mendapatkan investor. Padahal berdasarkan Peraturan Presiden No.5/2006, batubara cair pada 2025 harus memberi kontribusi sebesar 2% dari kebutuhan energi nasional. Hal ini disampaikan Staff Ahli Menteri Bidang Kewilayahan dan Lingkungan Hidup Departemen ESDM Lobo Balia usai mengisi Indonesian Coalaboration 2007 di Sangri-la, Jakarta, Senin (16/4/2007). "Dua tahun lalu Bumi (Bumi Resources) sudah mau masuk, tapi mundur lagi. Mana saya tahu kenapa," ujarnya. Meski menyatakan bahwa bisnis ini ekonomis, namun Lobo tidak menjelaskan lebih mengapa belum ada investor yang berminat. Padahal, menurutnya, pemerintah sudah terus menawarkan berbagai macam insentif. Diantaranya adalah kemungkinan penurunan royalti yang harus dibayarkan ke pemerintah. Untuk membuat satu pabrik dengan kapasitas batubara cair 150 ribu barel per hari, dibutuhkan investasi hingga Rp 20-30 triliun. Di pabrik inilah, setiap ton batubara padat bisa dikonversi menjadi 2-3 barel minyak. Lobo melanjutkan, untuk membangun pabrik pencairan batubara disarankan di Sumatera dan Kalimantan yang memiliki cadangan yang besar. "Sumatera Selatan jauh lebih baik," ujarnya. Selain pencairan, pemerintah juga menggalakkan gasifikasi batubara. Hanya saja, proyek ini sudah berkembang lebih maju. Pupuk Kujang sedang bekerjasama dengan Badan Litbang DESDM untuk percobaan gasifikasi batubara dengan teknologi dari Jepang. "Nantinya akan digunakan untuk pasokan Kujang sendiri," tambah Lobo. (lih/qom) |
Rambah Bisnis Gasifikasi Batubara - Orang Terkaya ke-6 RI Nilai Investasi capai US$ 2 Miliar 28 March 2011
25 Investor Amerika Serikat Siap Masuk Indonesia 22 January 2010
Divestasi Saham Tambang Sebaiknya business to business (B2B) 21 January 2010
Pertamina Ganti Elpiji dengan dimetil eter (DME) 20 January 2010
50 Miliar Ton Batubara Siap dikomersialkan 19 January 2010