|
22/03/2008 - 07:57-INILAH. COM,
Jakarta Upaya efisiensi terus digencarkan. Untuk mengikis subsidi, penggunaan BBM pun dialihkan ke batubara dan gas bumi. Yang terkini: penghematan pembangkit listrik dengan program gasifikasi batubara.
Menteri-Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Purnomo Yusgiantoro mengatakan, gasifikasi batubara yang telah diujicobakan Puslitbang Teknologi Mineral dan Batubara (Tekmira) di Palimanan, Cirebon, bisa mengurangi subsidi pemerintah untuk energi listrik.
"Gasifikasi batubara akan mengurangi penggunaan solar di Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) PLN. Jika semua PLTD memakai gasifikasi, penghematan subsidi bisa mencapai Rp 25,4 triliun," kata Purnomo di Jakarta, Jumat (21/3).
Program gasifikasi ini, diterapkan untuk mengurangi tekanan pada APBN. Dengan asumsi harga minyak US$ 85 per barel, subsidi listrik mencapai Rp 150 triliun.
"Sudah saatnya subsidi dikurangi, antara lain dengan program gasifikasi batubara. Apalagi, cadangan batubara di Indonesia bisa digunakan untuk 100 tahun ke depan," jelas Purnomo. Ia berharap, keberhasilan pilot plan yang mengurangi pemakaian solar itu dilanjutkan dalam skala komersial.
Peningkatan konsumsi listrik selama 20 tahun terakhir memang terbilang pesat, yakni 14,5% per tahun. Hal ini diperkirakan berlangsung hingga 25 tahun mendatang dengan pertumbuhan 7,8% per tahun.
Program itu akan mendorong peningkatan permintaan batubara untuk pembangkit listrik. Jumlah 21% pada 1996 bisa menjadi 78% di 2021. Sumber daya energi batubara diperkirakan masih 36,5 miliar ton dengan 5,1 miliar ton di antaranya dikategorikan sebagai cadangan terukur.
Direktur PLN Fahmi Mukhtar mengatakan, ada 4.000 unit PLTD dengan kapasitas 2.870 Mega Watt yang masih menggunakan solar 100% sehingga ongkos produksinya mencapai Rp 2.200 lebih per kWh. Padahal, listrik dijual kepada konsumen Rp 600 per kWh sehingga subsidinya masih terlalu tinggi.
Tingginya harga minyak dunia membuat persoalan yang dihadapi PLN tidak ringan. "Dengan gasifikasi batubara, pengeluaran untuk solar akan dialihkan untuk batubara sehingga subsidi pemerintah jauh berkurang," kata Fahmi.
Gasifikasi batubara pada prinsipnya adalah suatu proses perubahan batubara menjadi gas yang mudah terbakar, yaitu mengubah bahan padat seperti biomass, batubara, dan arang dari proses oil refinery menjadi gas seperti CO, CO2, H2, dan CH4.
Bahan baku utama gasifikasi batubara adalah batubara kalori rendah, yakni 3.000-4.000 kalori. Keuntungan penggunaan gas batubara dibandingkan minyak solar adalah biaya gas batubara lebih murah.
Permasalahan utama dalam pemanfaatan batubara adalah wujud batubara yang berupa zat padat sehingga kurang luwes dalam transportasinya.
Selain itu, batubara mengandung sulfur, nitrogen, dan abu dalam jumlah besar sehingga gas buang hasil pembakaran menghasilkan polutan seperti SO2, NO2, dan abu terbang. Pembakaran batubara juga menghasilkan CO2 yang berperan dalam proses pemanasan global.
Menurut peneliti di BPP Teknologi Agus Sugiyono, kini sedang dikembangkan teknologi IGCG (Integrated Coal Gasification Combined Cycle) yang menerapkan teknologi batubara bersih untuk meminimalisir dampak lingkungan.
Istilah IGCC paling banyak digunakan untuk menyatakan daur kombinasi gasifikasi batubara terintegrasi.
Teknologi PLTU batubara konvensional mempunyai tingkat efisiensi yang rendah, yakni 33-36%. Peningkatan efisiensi ini dapat dilakukan dengan membangun unit pembangkit yang lebih besar atau menaikkan suhu dan tekanan dalam siklus panasnya.
Tapi, selain mempunyai keterbatasan dan menambah tingkat kerumitan dalam pemilihan materialnya, beban biaya akan bertambah terkait tuntutan memelihara lingkungan hidup.
Karena itu, perlu menambah peralatan seperti de-SOX (desulfurisasi), de-NOX (denitrifikasi), dan penyaring debu (electrostatic precipitator). Pemasangan peralatan ini akan mengefisiensikan total pembangkit listrik.
Efisiensi pembangkit listrik ICGG berkisar 38-45%, lebih tinggi 5-10% dibandingkan PLTU batubara konvensional. Hal ini karena proses gasifikasi sehingga energi yang terkandung dalam batubara bisa digunakan secara efektif.
Keuntungan lain dari pembangkit listrik IGCC adalah adanya produk sampingan yang merupakan komoditi bernilai jual seperti sulfur, asam sulfat, dan gypsum.
Berdasarkan penghitungan Kepala Balitbang ESDM Neni Sri Utami, pada PLTD dual fuel yang menggunakan gasifikasi batubara 65% dan solar 35%, biaya produksi listrik hanya Rp 1.167 per kWh dengan asumsi harga solar industri Rp 7.480 per liter dan harga gas batubara US$ 5 per MMBtu. [E1/I3] |