|
Monday, 08 March 2010 11:50 |
Senin, 15/08/2005 07:03 WIB, Detik News
- - Kementerian BUMN berencana memangkas jumlah badan usaha milik negara dari 158 menjadi hanya sekitar 70-80 hingga 2009. Untuk menunju ke sana, banyak upaya yang harus ditempuh. Penggabungan usaha adalah salah satu opsi. Bagi BUMN yang rapornya 'merah' abadi, likuidasi adalah salah satu jalan. Untuk mengetahui lebih jauh, Bisnis mewawancarai Mahmuddin Yasin, Deputi Menneg BUMN Bidang Restrukturisasi dan Privatisasi di kantornya belum lama ini. Berikut petikannya: Kementerian BUMN berencana memangkas jumlah BUMN menjadi hanya 70 hingga 80 perusahaan dari 158. Bagaimana prosesnya? Mengutip pernyataan Pak Menteri [Menneg BUMN Sugiharto], confirm menjadi sekitar segitu. Dari sekitar 158 BUMN yang ada sekarang ini, status 13 perusahaan jawatan (perjan) diubah menjadi menjadi balai layanan umum (BLU). Kalau mau melihat kondisi BUMN secara keseluruhan, dapat dilihat dari empat indikator utama yaitu aset, modal, penjualan, dan laba. Sekitar 25 BUMN besar sudah mewakili empat hal penting tersebut. Dengan memperhatikan indikator itu, jumlah aset dari 25 BUMN itu mewakili sekitar 93% dari total aset, 92% dari jumlah modal, 83% dari total penjualan, dan 97% dari laba bersih total BUMN. Bila hanya memasukkan tiga variabel itu, paling tidak terdapat 23 BUMN besar yang asetnya mencapai 92% dari total aset, 90% dari total ekuitas, 80% dari penjualan, dan total laba. BUMN mana yang termasuk 25 besar itu? Sudah bisa ditebak. BUMN yang telah menjadi perusahaan publik termasuk di dalamnya, apalagi restrukturisasi BUMN perbankan sudah rampung. Restrukturisasi Bank Mandiri, Bank Negara Indonesia, dan Bank Rakyat Indonesia (BRI) itu relatif sudah selesai. Telkom sudah menjadi perusahaan publik, begitu juga BRI. Restrukturisasi Bank Ekspor Indonesia juga sudah rampung. Perusahaan Gas Negara sudah go public, begitu juga dengan Tambang Batubara Bukit Asam. |
|
Read more...
|
|
Thursday, 04 March 2010 00:00 |
Senin, 29/08/2005 13:31 WIB- detikNews - Eddi Santosa Den Haag - Belanda akan mengganti bahan bakar pembangkit listriknya dengan minyak kelapa sawit dari Indonesia. Pembela lingkungan di Belanda menentang karena Indonesia akan menanggung kerugian. Salah satu perusahaan pembangkit listrik yang akan beralih bahan bakar ke minyak kelapa sawit itu adalah Electrabel di Nijmegen. Semula Electrabel memakai batubara dengan kebutuhan 70.000 ton. Penggantian dengan minyak sawit yang akan menyedot kebutuhan 50.000 ton itu diharapkan dapat mengurangi pencemaran lingkungan. Rencana itu sudah disetujui Kementerian Keuangan dan Kementerian VROM (Tata Ruang dan Lingkungan) dan kedua departemen itu akan memberikan subsidi. Setelah Electrabel, pembangkit berbahan bakar batubara lainnya siap menyusul, yakni di Geertruidenberg, Maasbracht dan Zwolle. Bahkan pabrik bio-disel berbahan minyak kelapa sawit siap dibangun di Zwijndrecht. Namun pembela lingkungan di Belanda, Milieudefensie (Pertahanan Lingkungan) dan Gelderse Milieufederatie (Federasi Lingkungan Gelder) menentang rencana Electrabel itu. Alasannya, karena keputusan itu akan memicu penggundulan hutan di Indonesia untuk dijadikan lahan kelapa sawit. Dalam situswebnya, Milieudefensie menyebutkan bahwa impor minyak kelapa sawit Belanda dari Indonesia saat ini meningkat 100 persen dalam kurun dasawarsa mutakhir menjadi 515.700 ton |
|
Read more...
|
|
|
Tuesday, 02 March 2010 00:00 |
Senin, 08/08/2005 11:12 WIB- detik News - Nala Edwin Jakarta - Sebab musabab terjadinya tabrakan dua kereta api (KA) di Penjaringan, Jakarta Utara, masih gelap. Masinis KA ekonomi jurusan Jakarta-Rangkasbitung dan masinis KA pengangkut batubara yang terlibat tabrakan, akan dimintai keterangan. Polsek Penjaringan hari ini akan memeriksa masinis KA ekonomi, masinis KA Batubara Sutarno dan penjaga lintasan KA untuk mengetahui sebab terjadinya kecelakaan. Mereka diperiksa untuk dikroscek. Demikian informasi yang diperoleh detikcom dari Laporan Segera Polda Metro Jaya, Jakarta, Senin (8/8/2005). |
|
Read more...
|
|
Monday, 01 March 2010 00:00 |
|
Kamis, 04/08/2005 10:44 WIB - detikNews - Umi Kalsum Jakarta - Ancaman terganggunya pasokan listrik di Jawa-Bali jika karyawan PT Kereta Api (KA) menjalankan aksi mogok dibenarkan PT PLN (Persero). Meski tidak ingin mencampuri urusan internal KA, PLN mengimbau KA tetap memperhatikan pasokan batubaranya, sehingga pemadaman listrik bisa dihindari. "Kalau betul mereka akan mogok massal, tolong bagian yang melayani batubara tetap beroperasi. Sebab kalau mogoknya berlarut-larut kita khawatir terjadi pemadaman bergilir lagi di Jawa-Bali," ungkap GM Penyaluran dan Pusat Pengaturan Beban (P3B) Jawa-Bali PT PLN Muljo Adji kepada detikcom Kamis, (4/8/2005). |
|
Read more...
|
|